“TNI adalah Rakyat”

17 07 2008

”Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanamkan, semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita, apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata.” (Panglima Besar Jenderal Sudirman, 1946).

 

Jati diri TNI dapat ditemukan secara tertulis dalam Nilai–nilai Kejuangan ’45 dan sesuai dengan Amanat Panglima Besar Jenderal Sudirman yang mengatakan bahwa; TNI adalah Tentara Pejuang, Tentara Rakyat dan Tentara Nasional. Bukan seperti yang tertuang dalam Undang– undang No 34 tahun 2003 yang mencantumkan salah satu jati diri TNI adalah Profesionalisme.

Panglima Besar Jenderal Sudirman mengatakan; ”Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti sekarang ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot. Angkatan Perang Republik Indonesia lahir di medan perjuangan kemerdekaan nasional, di tengah–tengah dan dari revolusi rakyat dalam pergolakan membela kemerdekaan itu, karena itu, Angkatan Perang Republik Indonesia adalah: tentara nasional, tentara rakyat dan tentara revolusi”. (Sudirman & Sudirman, Pusjarah TNI, Jakarta, 2004, hal. 49). 

Jelas bahwa jati diri TNI adalah tentara nasional, tentara rakyat dan tentara pejuang  revolusi. Di sini tidak ada kata-kata profesionalisme, karena sebenarnya profesionalisme itu bukanlah jati diri asli TNI tetapi sudah merupakan adopsi dari rumusan tentara Negara Barat. Jenderal Besar Nasution dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa jati diri TNI adalah bahwa; “Bukan sekedar “alat pemerintah” sebagaimana yang berlaku di negara-negara Barat, bukan pula “alat suatu partai” sebagaimana yang ditentukan di negara-negara komunis, apalagi semacam “rezim militer” yang mendominasi negara.

TNI adalah “alat perjuangan rakyat”, sebagai salah satu dari kekuatan politik nasional yang ada, dan dengan keikutsertaan dalam kehidupan politik itu, TNI tidak akan tidak aktif”, (Salim Said, Genesis of Power, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992, hal 30). Ini disampaikan pada saat menanggapi situasi dan kondisi dimana masyarakat dan negara membutuhkan peran lebih dari TNI dalam mengawal pembangunan dan mengisi kemerdekaan Indonesia, dimana TNI harus berperan juga sebagai kekuatan Sosial Politik pada saat itu dan sesudahnya hingga jatuhnya regim Orde Baru pada medio 1998. 

 

-LJ-

 

 

 


Actions

Information

6 responses

1 08 2008
tri

sebaikny TNI harusny mmg sprti itu, sbgai pelindng rakyt,bukn s’suatu yg di takuti rkyt,,,,,

6 08 2008
jane

iyaaa..setuju saiaaa…TNI memang harus jadi pelindung rakyat! agree with mr.tri..

20 08 2008
yudi eko wardoyo

yang perlu di mengerti oleh rekan2 bahwa TNI juga manusia yg memiliki keterbatasan, sehingga saran membangun sangat dibutuhkan agar kedepan TNI lebih Profesional, TNI kita sekarang lebih terbuka kok dan sdh banyak dari mereka yg berpendidikan baik S1, S2 bahkan S3.

26 08 2008
risa

Marilah kita bersama-sama membangun negeri kita sesuai porsi dan tugas masing-masing. Semua elemen bangsa marilah bersatu menuju Indonesia yang makmur,amin.

16 11 2008
M.Rizal ashari

TNI adalah ujung tombak bagi kedaulatan NKRI. Untuk itu kita harus selalu ikut menjaga kedaulatan negara ini. Karna bagaimanapun TNI juga sama seprti kita yaitu sebagai warga negara indonesia.

28 11 2008
subpokjerman

Betul….. setuju sekali Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: