Karneval – Köln

8 07 2008

Karnaval bisa berarti:

  1. suatu pesta besar atau pameran
  2. pesta di benua Eropa dan Amerika, terutama di bagian selatan untuk menyambut masa Pra-Paskah yang dirayakan umat Kristen. Dimulai dari minggu sebelum Rabu Abu sampai hari Rabu Abu sendiri. Secara etimologis berasal dari bahasa Latin; carne yang berarti daging. Sebab dalam masa pra-paskah dahulu kala, umat Kristen harus berpantang tidak boleh makan daging.

Karnaval terkenal yang dirayakan di benua Amerika dan Eropa ialah Mardi Gras.

 

Asal-muasal nama “karnaval” masih diperdebatkan. Menurut salah satu teori, nama itu berasal dari Bahasa Latin carrus navalis (“gerobak kapal”),[1] yang mengacu pada gerobak dalam suatu pawai keagamaan, seperti gerobak yang digunakan dalam arak-arakan keagamaan pada perayaan tahunan untuk menghormati dewa Apollo. Namun menurut sumber-sumber yang lain, nama karnaval bersal dari Bahasa Italia carne levare yang berarti “mengenyahkan daging”, karena daging dilarang selama masa prapaskah.[2] Menurut teori lain, nama karnaval berasal dari ungkapan dalam Bahasa Latin Kuno carne vale, yang berarti “selamat tinggal daging”, yang menunjukkan bahwa saat tersebut adalah hari-hari terakhir orang boleh makan daging sebelum berpuasa selama masa prapaskah.

 

 

 

 

 

 

„Alaaf Akhbar“ adalah ucapan salam dan selamat minum untuk pesta Karnaval di Jerman yang telah menjadi motto di tahun ini. Hal ini rupanya dikaitkan secara tidak langsung dengan adanya heboh sengketa karikatur Nabi. Perkataan „Alaaf Akhbar“ ini sebenarnya merupakan sindiran maupun plesetan dari kalimat „Allahu Akbar“ dalam bahasa Arab yang berarti Allah Maha Besar/Agung.

Perkataan „Alaaf“ itu sendiri diserap dari ucapan salamnya Pangeran Metternich pada abad ke 16, dimana ia menulis dalam bahasa dialek „Coelen Al Aff“ atau dalam bahasa Jermannya „Köln über alles“ = „Köln berada diatas semuanya“. Dan sejak karneval di tahun 1733 ini digunakan sebagai ucapan salam maupun ucapan untuk toast selamat minum mereka „Koelle Alaaf!”, maklum kota Köln merupakan pusatnya dari karnaval Jerman.

 

 

Dan sudah merupakan tradisi mereka pada saat karneval para badut-badut membuat lelucon-lelucon yang menyindir mulai dari para tokoh politik s/d Presiden. Dan mereka juga tidak segan-segan untuk menyindir Paus bahkan Yesus. Mereka semuanya dijadikan bahan ejekan dan sindiran mereka yang seringkali juga bersifat jorok.


Walaupun demikian menurut pendapat saya ucapan „Alaaf Akhbar“ itu sudah kebangetan dan tidaklah pantes. Hal inilah yang membuat saya menjadi geram, karena ini merendahkan maupun menghina agama orang lain. Bagi umat Kristen sekalipun nama Allah itu seharusnya dihormati dan tidak boleh diucapan dengan secara sembarangan begitu saja, apalagi sampai dipelesetkan menjadi „Alaaf“ untuk dijadikan bahan lelucon. Ini namanya sudah menghujat Allah !

Karneval di Jerman pada umumnya dimulai pada setiap tgl 11 bulan 11, tetapi puncaknya dirayakan pada saat menjelang penutupannya yang dirayakan 40 hari sebelumnya hari Paskah. Karneval tahun ini akan dirayakan mulai dari tgl. 23 Feb s/d 26 Feb.

Sebenarnya pesta Karnaval itu sendiri merupakan awal dari masa puasa agar kita menjadi eling dan sadar, oleh sebab itulah nama sebenarnya dari Karnaval di Jerman adalah „Fastnacht“ = „Malam Puasa“ atau malam sebelum puasa. Dan kata Karnaval itu diserap dari bahasa Italy “carnevale” yang berasal dari bahasa Latin “carnem” = daging dan kata “vale” = selamat tinggal, jadi secara harfiah bisa diartikan „Stop makan daging“. Jadi pesta karneval ini sebenarnya merupakan hari tradisi agama.

Hanya sayangnya pesta Karnaval yang seyogiyanya merupakan hari peringatan agama telah disalah artikan dan dirobah menjadi pesta anarkhi atau pesta gila-gilaan yang diwarnai dengan kekerasan, mabuk-mabukan dan pesta pora seks. Selama Karnaval semua peraturan dan ketertiban yang selama setahun penuh mereka taati dan junjung tinggi; ini semuanya di peti es-kan dahulu selama lima hari berturut-turut. Omset penjualan alkohol tertinggi di Jerman selalu terjadi pada saat menjelang karnaval.

 

 

 

Selama menjelang pesta karnaval banyak pasangan Jerman yang mengadakan kesepatakan bersama untuk meliburkan diri dari ikatan perkawinannya, sehingga mereka boleh dan bisa melakukan seks dengan siapa saja, kapan saja maupun dimana saja.

Berdasarkan catatan sejarah di Venesia – Itali mereka sudah mengenal karnaval sejak tahun 1268. Karneval bukan hanya dirayakan di Eropa saja, tetapi hampir diseluruh dunia. Di Louisiana – Amerika Serikat mereka merayakan karnaval yang diberi nama “Mardi Gras” sedangkan yang paling terkenal dan yang paling meriah di Rio de Jainero (Brasil) yang namanya sama ialah Carnaval = dalam bahasa Portugis. Nama Mardi Gras itu sendiri diserap dari bahasa Perancis yang berarti „Selasa Gemuk“. Di Sydney – Australia mereka juga merayakan pesta Mardi Gras, tapi ini bukan karnaval tulen melainkan pestanya kaum Gay & Lesbian. Karnaval tanpa adanya pawai bukanlah karnaval maka dari itu juga puncaknya dari hampir semua pesta karnaval adalah pawai karnaval; di Koeln di sebut “Rosenmontagszug” dan selalu di selenggarakan pada hari Senin atau Montag dalam bahasa Jerman.

 

 

Pawai karnaval sebenarnya berasal dari tradisi pembuat kapal. Apabila kapal yang mereka buat sudah selesai, maka kapal tersebut diarak ke pantai. Kapal di dorong kepantai dengan menggunakan roda dalam bahasa Latin =”Carrus Navalis” (Kapal diatas roda). Jadi bisa juga katakan bahwa kata karnaval tersebut diserap dari perkataan Carrus Navalis. Kebiasaan ini sudah dikenal sejak jaman Rumawi dan hingga saat ini masih tetap dirayakan terutama oleh penduduk di Aalborg – Denmark. Hal inilah yang akhirnya menjadi tradisi untu selalu mengadakan pawai menjelang pesta karnaval.

Pawai karnaval sebenarnya berasal dari tradisi pembuat kapal. Apabila kapal yang mereka buat sudah selesai, maka kapal tersebut diarak ke pantai. Kapal di dorong kepantai dengan menggunakan roda dalam bahasa Latin =”Carrus Navalis” (Kapal diatas roda). Jadi bisa juga katakan bahwa kata karnaval tersebut diserap dari perkataan Carrus Navalis. Kebiasaan ini sudah dikenal sejak jaman Rumawi dan hingga saat ini masih tetap dirayakan terutama oleh penduduk di Aalborg – Denmark. Hal inilah yang akhirnya menjadi tradisi untu selalu mengadakan pawai menjelang pesta karnaval.

 

Badut-badut di sebuah karnaval Jerman


Actions

Information

One response

9 07 2008
LadYjazZy

ceritanya seruu..meskipun kepanjangan dan warna kuningnya nyolok bgt,,tapi seru lah…hehe..:-p
tapi serem juga ya klo pesta karnavalnya ada di indonesia..coz di pesta itu kan segala ikatan yg berhubungan dgn relationship dilegalkan..alias boleh “eehmmm..ehmmm” ama siapa ajaaa..
ihhh sereeemmmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: